An Innovative Way to Increase Indonesian Agricultural Products

Sumber gambar : Google | Edit : Author


Kali ini I Travel Sometimes akan membuat review singkat mengenai suatu rancangan ide yang cukup inovatif, yaitu Balakosa.


Logo Balakosa Company
Sumber gambar : Website Balakosa

Balakosa sendiri sederhananya merupakan sebuah platform media yang concern untuk meningkatkan pemanfaatan hingga penjualan produk agrikultur di Indonesia—khususnya buah. Balakosa baru berupa perancangan ide/konsep saja, berhubung ini merupakan salah satu bentuk tugas yang dikerjakan oleh salah satu rekan di kampus. Namun, saya tertarik untuk membuat sedikit review mengenai Balakosa karena konsepnya yang unik dan inovatif.

Ide pembentukan Balakosa sendiri berangkat dari mindset masyarakat yang mayoritas menganggap bahwa semua—baik barang hingga makanan—yang merupakan produksi dari luar negri, kualitasnya jauh lebih bagus dibandingkan dengan produksi dari dalam negri. Hal ini tentu tak bisa dipungkiri kebenarannya, tetapi apakah anggapan ini harus selalu tertanam di benak masyarakat?

Berfokus pada produk agrikultur lokal, Balakosa berusaha menjadi solusi bagi permasalahan anggapan impor-lebih-baik, yang ternyata juga berdampak pada produk-produk agrikultur Indonesia. Ketika mendengar Pepaya California, masyarakat cenderung akan lebih memilih buah pepaya tersebut dibandingkan dengan Pepaya yang tidak ada embel-embel nama negara luar, sebagai contoh Pepaya Calina. Tetapi, Pepaya Calina ini sebenarnya sama dengan Pepaya California. Kedua pepaya tersebut merupakan jenis pepaya yang sama, dan perbedaannya hanya terletak pada penyebutan namanya saja. Lalu, mengapa ada dua penyebutan yang berbeda?

Nama asli yang sebenarnya adalah Pepaya Calina. Namun, kembali lagi ke permasalahan anggapan impor-lebih-baik, Pepaya Calina kemudian banyak diubah penyebutannya—terutama oleh para penjual—menjadi Pepaya California untuk menarik konsumen. Dari contoh kasus ini sangat terlihat bahwa anggapan impor-lebih-baik memiliki pengaruh yang sangat kuat khususnya pada konsumen Indonesia. Miskonsepsi mengenai produk lokal ini lah yang merupakan salah satu latar belakang dibentuknya Balakosa.

Selain berangkat dari permasalahan mengenai mindset konsumen, Balakosa juga muncul dari banyaknya ‘permainan’ harga yang dilakukan oleh para tengkulak yang ada di Indonesia kepada para petani. Hal ini menjadikan para petani mendapatkan hasil jual yang sangat sedikit, sedangkan para tengkulak mendapatkan keuntungan yang sangat besar dari penjualan yang kembali mereka lakukan.

Berdasarkan dua permasalahan tersebut, Balakosa hadir untuk mencoba menjadi solusi. Balakosa sendiri memiliki beberapa project dan program yang semuanya bertujuan untuk menunjang produk agrikultur Indonesia. Project dan program tersebut diantaranya adalah agricultural training, yang diperuntukan bagi para petani lokal agar produk agrikultur yang mereka hasilkan bisa memiliki kualitas yang baik sehingga dapat bersaing di pasar; agricultural ideapreneur seminar yang diperuntukan bagi masyarakat luas khususnya mereka yang tertarik untuk berbisnis agar mempertimbangkan sektor agrikultur sebagai salah satu peluang bisnis; balakosa kitchen, yang merupakan restaurant dengan berbagai sajian yang menggunakan produk agrikultur lokal; balakosa skin care, yang merupakan produk kecantikan alami dengan bahan dasar produk agrikultur lokal; dan balakosUP, yang merupakan aplikasi mobile untuk berbelanja berbagai produk agrikultur lokal secara online.

Teman-teman sekalian dapat mengakses informasi mengenai berbagai project dan program tersebut di website Balakosa, http://balakosacompany.wixsite.com/mainwebsite.

Overall, semua project dan program yang dibentuk sudah cukup untuk menjawab tujuan dari dibentuknya Balakosa. Namun, beberapa hal perlu untuk diperhatikan berkaitan dengan keberlangsungan project dan program tersebut. I Travel Sometimes akan lebih berfokus pada project BalakosUp.

Fitur BalakosUp
Sumber gambar : Website Balakosa

Berkaitan dengan BalakosUp, endistribusian atau pengiriman produk agrikultur yang dipesan oleh konsumen perlu diperhatikan. Kelayakan produk agrikultur—terutama sayur dan buah-buahan—perlu diperhatikan, karena kedua produk tersebut tidak memiliki ketahanan akan kesegaran yang lama, sedangkan kesegaran dari produk merupakan hal yang penting untuk dipromosikan kepada konsumen. Berkaitan dengan kesegaran produk, Balakosa harus mempertimbangkan, bagaimana jika petani yang menjadi pemasok produk berasal dari daerah yang cukup jauh.

Kemudian, hal lain yang menjadi penting adalah bagaimana caranya aar konsumen tertarik untuk membeli produk lokal tersebut? BalakosUp memiliki komitmen untuk mempromosikan bahwa yang mereka tawarkan sepenuhnya adalah produk lokal, termasuk dengan menggunakan nama asli produk lokal tersebut. Inilah yang perlu menjadi perhatian, bagaimana agar lewat BalakosUp, para konsumen tertarik untuk membeli dan yakin bahwa produk lokal juga memiliki kualitas yang baik. Belum lagi keadaan dimana produk tak bisa dilihat langsung oleh konsumen karena transaksi dilakukan secara virtual. Salah satu cara untuk membuat konsumen tertarik dengan produk lokal yang ditawarkan oleh Balakosa mungkin bisa dengan mengungkapkan beberapa fakta unik mengenai produk agrikultur lokal Indonesia, sebagai contoh fakta mengenai bahwa Pepaya California adalah Pepaya Calina.

Kemudian, pembagian keuntungan dengan para petani lokal juga perlu diperhatikan. Apakah Balakosa akan menerapkan sistem membeli langsung atau menggunakan sistem membagi untung. Berkaitan dengan hal ini, Balakosa mungkin bisa mulai mempertimbangkan dengan memerhatikan bagaimana sistem kerjasama para tengkulak dengan petani.


Balakosa saya rasa bisa menjadi salah satu cara untuk memajukan industri produk agrikultur Indonesia. Inovasi-inovasi berkaitan dengan produk agrikultur yang belum banyak terbentuk, saya rasa perlu untuk digali lebih lagi. Sangat disayangkan Balakosa hanya terhenti sampai pembentukan konsep saja—karena memang hanya merupakan tugas kuliah. Saya pribadi sangat tertarik dengan ide ini, terutama concernnya terhadap agrikultur lokal Indonesia. Semoga ide-ide lain yang cemerlang seperti ini bisa terbentuk dan tak hanya terhenti sampai pembentukan konsep saja!

Comments

Popular posts from this blog

How Pete's Corner Jakarta Optimize Social Media

Amour Movie Review