Amour Movie Review



Amour adalah sebuah film asal Perancis yang keluar di tahun 2012. Film dengan genre drama ini menceritakan pasangan suami istri yang telah menikah lama dan tengah menjalani hari-hari tua mereka. Anne dan Georges tinggal berdua di sebuah apartemen di kota Paris. Singkat cerita, suatu saat Anne mengalami stroke yang kian hari kian parah, hingga pada akhirnya menyebabkan ia tak bisa lagi menggerakkan tubuh bagian kanannya, tak bisa lagi berjalan, dan tak bisa lagi berbicara dengan jelas. Anne berakhir dengan hanya berbaring di tempat tidur setiap harinya. Pada awalnya, Georges lah yang merawat Anne sendiri dikarenakan Anne tak ingin dibawa ke rumah sakit ataupun nursing house. Namun, sejak keadaan Anne mulai parah, Georges kemudian mempekerjakan perawat yang rutin datang tiga kali dalam seminggu. Hingga suatu saat, ketika Anne merintih kesakitan, Georges menghampiri Anne yang sedang berbarring lemah di dalam kamar. Georges kemudian mulai menceritakan salah satu kisah kecilnya, yang kemudian membuat Anne mulai tenang hingga tak mengeluarkan rintihan lagi.

Lalu, sampai lah pada plot-twist yang mungkin untuk beberapa orang memunculkan rasa terkejut dan reaksi negatif terhadap karakter Georges, namun justru scene tersebut sarat akan makna dari arti judul film ini sendiri—semua memang relatif, tergantung dari bagaimana penonton menginterpretasikannya. Setelah selesai menceritakan ceritanya, Georges kemudian mengambil bantal tidur yang ada di sebelah Anne, dan menutup wajah Anne dengan bantal tersebut sambil menekannya. Terlihat tubuh Anne bergerak seperti kejang karena tak bisa bernapas. Hingga akhirnya Anne terdiam dan tak bernapas.

Salah satu adegan dalam film Amour yang dianggap menjadi plot-twist
Sumber gambar: Google

Makna dari arti judul film ini, Amour: cinta, dapat kita lihat sejak awal film. Bagaimana Georges masih sangat memuji Anne akan kecantikannya; bagaimana Georges dengan sabar selalu merawat Anne walaupun semakin lama ia semakin menerima tekanan tersendiri; bagaimana ia tetap menepati janjinya pada Anne untuk tidak membawanya ke rumah sakit walaupun anak mereka, Eva, terus menuntut sang Ayah untuk membawa Ibunya ke rumah sakit; bahkan rasa cinta terlihat dari scene ‘plot-twist’ yang muncul menjelang akhir film, dimana rasa cinta yang dimiliki Georges untuk Anne tak membuatnya kuat melihat Anne terus-terusan merasa sakit.

Salah satu hal yang saya senangi dari film ini adalah bagaimana sang pembuat film seakan memberi kebebasan kepada penonton untuk menginterpretasikan apa yang mereka tonton, walaupun beberapa bagian cerita mungkin memang memiliki makna tersendiri yang telah ditentukan oleh sang pemilik cerita. Sebagai contoh, yang menjadi pertanyaan besar setelah menonton film, yaitu apakah Georges juga mati atau tidak. Banyak sekali bagian dalam film yang memunculkan banyak jawaban akan pertanyaan ini. Seperti adegan setelah Anne telah meninggal, tiba-tiba Georges bertemu kembali dengan Anne. Keduanya sama-sama mengenakan mantel kemudian pergi keluar apartemen. Ketika pertama kali menonton, saya menganggap scene tersebut sebagai sebuah simbolisasi kematian Georges. Scene tersebut seakan menggambarkan bahwa kedua pasangan tersebut ‘pergi’ bersama. Namun, jika kita ingat kembali pada awal film, ketika petugas keamanan mendobrak pintu dan masuk ke dalam apartemen, Georges tak terlihat, baik dalam keadaan hidup ataupun mati. Hal ini kemudian menjadi menarik untuk menjadi bahasan dan refleksi. Mungkin banyak aspek-aspek kecil yang terlewati, yang seharusnya bisa diperhatikan sepanjang film berjalan agar dapat menjawab pertanyaan apakah Georges mati atau tidak. Atau mungkin saja sang pembuat film memang sengaja tidak ingin memberi jawaban, karena sebenarnya aspek yang ingin ditekankan dalam film adalah bagaimana hubungan dan cinta yang terjalin antara Anne dan Georges.

Salah satu adegan dalam film Amour: Georges terkejut
mendapati Anne ada di dapur.

Sumber gambar: Google

Selain scene ketika Georges dan Anne bersama-sama keluar dari apartemen—yang dijelaskan pada paragraf sebelumnya, banyak hal yang menjadi teka-teki tersendiri bagi para penonton. Sebagai contoh, mengapa Georges memberi lakban pada pintu dimana tubuh kaku Anne terbaring. Di satu sisi, mungkin kita akan bersama-sama berpikir bahwa hal tersebut dilakukan agar bau menyengat tubuh mati Anne tidak akan tercium. Namun, apakah Georges benar-benar berpikir melakukan hal tersebut agar sang istri tak pernah ditemukan sama sekali oleh orang lain? Agar tak ada yang bisa mencurigai bahwa ada mayat di dalam apartemen tersebut? Lagipula, pada awal film, terlihat bahwa jendela kamar dimana Anne berada terbuka lebar, sehingga mungkin jika dipikir secara logika, bau menyengat tubuh mati Anne bisa saja tercium karena jendela yang terbuka. Namun, saya rasa pertanyaan-pertanyaan tersebut justru yang membuat film ini menjadi menarik. Ketika mendapati diri saya mempertanyakan hal-hal ini dan tidak menemukan jawaban yang cukup rasional, terkadang saya kembali teringat, mungkin bukan hal tersebut yang penting untuk saya pikirkan mengenai film ini, tetapi bagaimana makna dari judul film tergambar disetiap adegan yang ada.

Simbolisasi cinta antara Anne dan Georges pun tak hanya terlihat dari perilaku dan hal-hal yang dilakukan oleh keduanya. Salah satu hal yang menyentuh saya adalah keberadaan burung merpati dalam film tersebut, terutama pada bagian akhir film, dimana Georges berusaha menangkap burung merpati yang tiba-tiba masuk ke dalam apartemen. Burung merpati bagi masyarakat barat merupakan simbolisasi dari cinta. Jika diperhatikan, setelah scene Georges menangkap burung merpati, muncul scene dimana ia menulis surat. Beberapa penggalan surat diberitahukan kepada para penonton, yang kurang lebih berbunyi “aku menangkap burung merpati tersebut, kemudian melepaskannya”. Penggalan kalimat dalam surat tersebut seakan menceritakan apa yang terjadi, yaitu Georges melepaskan cintanya, bahwa ia melepas Anne.

Salah satu adegan dalam film Amour: Georges duduk di kursi setelah menangkap
burung merpati yang masuk ke dalam rumahnya


Sumber gambar: Google

Penyaluran cerita pun sangat didukung dengan sinematografi yang baik. Ini pertama kalinya bagi saya untuk menonton film yang tak banyak menggunakan angle-shot yang berbeda-beda dalam setiap scene-nya. Dalam beberapa scene terkadang hanya menggunakan satu atau dua shot, yang justru memunculkan rasa penasaran dan tak jarang perasaan tegang. Dan tentu, akting dari para aktor patut untuk diberi applause. Tak heran memang, mengingat pemeran Anned dan Georges merupakan dua aktor dan aktris legendaris dari Perancis.

Film Amour menjadi salah satu film terbaik yang pernah ada. Tak heran jika film ini memborong banyak penghargaan baik di tahun film ini dikeluarkan dan juga di tahun setelahnya, yaitu 2013.



*Tulisan ini merupakan tugas dari salah satu mata kuliah yang saya ambil, dan ditulis oleh saya sendiri

Comments

Popular posts from this blog

An Innovative Way to Increase Indonesian Agricultural Products

How Pete's Corner Jakarta Optimize Social Media